SALO, Mediadihati.com — Pagi yang cerah menyelimuti halaman Kantor Camat Salo, Sabtu (15/8/2026). Di samping Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Salo itu, suasana tampak semarak. Senyum, tawa, dan keceriaan masyarakat berpadu dalam semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Pawai yang digelar pagi itu bukan sekadar rangkaian perayaan kemerdekaan. Di balik warna-warni pakaian dan barisan masyarakat yang bergerak bersama, terpancar sebuah pesan sederhana: kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat, dan kebahagiaan dalam mengisinya harus dirasakan bersama.
Di tengah suasana tersebut, keluarga besar KUA Kecamatan Salo turut mengambil bagian. Kepala KUA Kecamatan Salo, H. Zulfahmi, MA, hadir dengan penuh semangat, meskipun pada waktu yang sama ia memiliki tanggung jawab penting untuk menyaksikan pelaksanaan akad nikah salah seorang calon pengantin.
Bagi Zulfahmi, kedua tugas tersebut sama-sama merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Dengan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai penghulu, Zulfahmi menyempatkan diri hadir dalam kegiatan pawai. Kehadirannya menjadi gambaran bahwa seorang pemimpin lembaga pelayanan masyarakat tidak hanya hadir ketika dibutuhkan di dalam kantor, tetapi juga ketika masyarakat sedang merayakan kebahagiaan bersama.
Begitu pula para pegawai KUA Kecamatan Salo lainnya. Mereka tidak membentuk barisan khusus yang berdiri sendiri. Mereka memilih menyatu, membaur, dan berjalan bersama masyarakat dalam suasana penuh keakraban.
Kemerdekaan dalam Semangat Pengabdian
Bagi Zulfahmi, kebahagiaan mengikuti pawai kemerdekaan memiliki makna tersendiri. Hampir satu tahun memimpin KUA Kecamatan Salo, ia merasakan semakin kuatnya hubungan antara KUA dengan masyarakat.
KUA tidak ingin hadir hanya sebagai lembaga yang mengurus administrasi pernikahan. Lebih dari itu, KUA berupaya menempatkan diri sebagai bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Berbagai pesan terus disampaikan kepada masyarakat, terutama tentang pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga, membangun keluarga yang sakinah, menghindari pernikahan dini, serta mencegah praktik pernikahan siri atau pernikahan yang tidak tercatat secara resmi oleh negara.
Menurut semangat yang dibangun KUA Salo, keluarga yang kuat merupakan salah satu fondasi penting bagi lahirnya masyarakat yang kuat. Karena itu, pembinaan keluarga tidak cukup hanya dilakukan ketika pasangan akan menikah, tetapi harus terus dilakukan melalui edukasi dan pendampingan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, KUA Salo juga terus mendorong penguatan moderasi beragama. Perbedaan keyakinan, pandangan, maupun latar belakang sosial hendaknya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman harus dirawat dengan sikap saling menghormati, menghargai, dan menjaga kerukunan.
Menyatu dengan Masyarakat
Pawai HUT RI ke-81 di Salo akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah, lembaga keagamaan, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.
Kehadiran KUA Salo dalam barisan masyarakat menunjukkan bahwa pelayanan publik akan menjadi lebih bermakna ketika dibangun melalui kedekatan dan kebersamaan.
Zulfahmi tampaknya memahami bahwa membangun kepercayaan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui program-program formal. Terkadang, kehadiran dalam sebuah kegiatan masyarakat, menyapa warga, berjalan bersama, dan ikut merasakan kegembiraan mereka justru menjadi bahasa pengabdian yang paling sederhana sekaligus paling kuat.
Pagi itu, halaman Kantor Camat Salo menjadi saksi. Di tengah kibaran merah putih dan semangat kemerdekaan, KUA Salo tidak berdiri sebagai institusi yang berjarak dari masyarakat.
KUA Salo memilih berjalan bersama.
Sebab pada akhirnya, mengabdi bukan hanya tentang melayani masyarakat di balik meja kantor, tetapi juga tentang hadir, menyatu, dan ikut merasakan denyut kehidupan masyarakat.
Semangat kemerdekaan pun menemukan maknanya: ketika masyarakat hidup dalam keluarga yang harmonis, beragama dengan moderat, saling menghormati, serta membangun kehidupan yang damai, tenteram, dan rukun.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Dari Salo, pengabdian terus berjalan—menyatu dengan umat, merawat keluarga, dan menjaga kerukunan.














