Menu

Mode Gelap
RPP II Digelar di Sekretariat MPC Rohul, Tengku Syafril Arif Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin PAC Kepenuhan Hulu Wabup Kampar Dr Misharti Tinjau Kesiapan Pelatihan Produksi Sabun dan Minyak Sawit di Politeknik Kampar. FAK di Kukuhkan, Wabup Kampar Dukung Penuh KLA, Berharap Predikat KLA Tahun 2026 Meningkat. Bersinergi OPD Terkait, Optimalisasi Realisasi Pajak Daerah Kampar Meningkat Tajam Tahun 2025 Pencapaian Akademik Gemilang, Yusdiyen Hadinata Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude Pemkab Kampar Gandeng BPKP Riau Optimalkan PAD dan Perbaiki Tata Kelola Keuangan Daerah.

Daerah

Bukan Saatnya Media Menjadi Alat Pemukul: Seruan Netralitas di Tengah Polemik Sekda dan Bupati Kampar

badge-check


					Bukan Saatnya Media Menjadi Alat Pemukul: Seruan Netralitas di Tengah Polemik Sekda dan Bupati Kampar Perbesar

Oleh: Aprizal Khan (Penasehat Jaringan Media Siber Indonesia Kabupaten Kampar).

Setelah melaksanakan sholat Ashar, Jumat sore (17/10/2025), di salah satu masjid di Kecamatan Bangkinang, langkahku terhenti sejenak di tepi Sungai Kampar. Dari kejauhan, tampak megah Jembatan Waterfront City—kebanggaan masyarakat Kampar—menyilaukan mata dengan pantulan cahaya sore yang lembut. Di pangkal jembatan, Bangkinang Riverside kini menjadi pusat kuliner baru yang ramai dikunjungi warga untuk menikmati sore sambil menyeruput kopi.

Di tengah kedamaian aliran air, pikiranku mendadak terusik oleh riuhnya pemberitaan yang belakangan ini memenuhi ruang publik: polemik antara Sekda Kampar Hambali dan Bupati Kampar Ahmad Yuzar.
Sekda menilai kebijakan sang Bupati banyak yang cacat hukum, sedangkan media berlomba menyorot “serangan terbuka” ini seolah menjadi tontonan yang menggoda.

Sebagai jurnalis yang telah mengabdi lebih dari dua dekade, hatiku terus bertanya: ke mana arah idealisme media saat menghadapi situasi seperti ini?

Apakah pemberitaan kita benar-benar lahir untuk kepentingan publik, atau justru karena “asyiknya” melihat dua pejabat berselisih?

Kita harus sadar—setiap informasi yang disampaikan media adalah konsumsi bagi masyarakat. Jika informasi itu disajikan tanpa verifikasi, tanpa keseimbangan, atau hanya memuat emosi satu pihak, maka masyarakatlah yang paling dirugikan.

Media semestinya tidak menjadi alat pemukul untuk menjatuhkan seseorang.
Media tidak boleh digunakan untuk menyalurkan dendam atau kepentingan pribadi.

Tugas utama media adalah menyampaikan informasi yang berimbang dan mendidik publik, bukan memperuncing konflik.

Dalam konteks polemik Sekda dan Bupati Kampar, media seharusnya menggali keterangan dari kedua belah pihak, menanyakan dasar, alasan, serta bukti dari masing-masing pernyataan. Hanya dengan begitu publik bisa memahami persoalan secara utuh, bukan dari potongan narasi yang bisa menyesatkan.

Lebih penting lagi, media sebaiknya fokus pada dampak konflik terhadap masyarakat.
Perselisihan pejabat publik jangan dijadikan ajang sensasi politik. Yang seharusnya digali ialah bagaimana konflik itu berpengaruh terhadap pelayanan publik, pembangunan, dan kesejahteraan rakyat.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan “siapa yang benar”, tetapi “apa dampaknya bagi masyarakat?”

Baca Lainnya

Wabup Kampar Dr Misharti Tinjau Kesiapan Pelatihan Produksi Sabun dan Minyak Sawit di Politeknik Kampar.

23 April 2026 - 09:06 WIB

FAK di Kukuhkan, Wabup Kampar Dukung Penuh KLA, Berharap Predikat KLA Tahun 2026 Meningkat.

23 April 2026 - 09:00 WIB

Bersinergi OPD Terkait, Optimalisasi Realisasi Pajak Daerah Kampar Meningkat Tajam Tahun 2025

23 April 2026 - 08:55 WIB

Pencapaian Akademik Gemilang, Yusdiyen Hadinata Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude

22 April 2026 - 11:02 WIB

Pemkab Kampar Gandeng BPKP Riau Optimalkan PAD dan Perbaiki Tata Kelola Keuangan Daerah.

22 April 2026 - 10:59 WIB

Trending di Daerah